Thursday, March 28, 2013

Absen

Oleh Rio Rahadian Tuasikal / @riorahadiant


Kemana siswa-siswaku ini? Heran sekali, di penghujung Maret ini kelasku tak pernah penuh. Selalu saja ada yang tak masuk. Bergantian, berturut-turut, tak beri kabar. Bagaimana mau jadi generasi bangsa bila sekolah saja ogah-ogahan?

Aku benarkan posisi jilbabku sebelum membuka buku absen. Aku periksa kolom kehadiran tiap siswa. Kemarin Ayu dan tiga siswa lain bolos tanpa kabar. Hari ini tiga siswa tadi bolos lagi. Dasar.

“Frans, Gilbert sama Cindy ke mana? Sudah bolos dua hari.”

Murid hening.

“Van, kamu tahu ke mana temanmu?”

“Eh, mereka bilang Paskah, Bu.” Jawab Ivan hati-hati.

“Loh bukannya tanggal merahnya besok?”

“Kata mereka Paskah dari hari ini, Bu. Sampai Minggu.”

Aku hanya diam sambil cemberut. Diam-diam aku menambah tanda alfa pada kolom absen siswa Kristen itu. Langsung dua hari alfa, kecuali Jumat yang memang tanggal merah. Aku lanjutkan menyusuri sudut kelas. Ada Ayu yang kemarin bolos.

“Ayu, kemarin kamu ke mana? Kamu belum kumpulkan PR.”

“Itu, Bu, kemarin Ayu Galungan.”

“Galungan? Agama apa kamu?” Kataku sedikit membentak.

“Hindu,” ucap Ayu lalu menunduk malu.

Aku mendengus tanda kesal.

“Bu, Ayu mau minta maaf. Mestinya kemarin Ayah Ayu minta izin sama Ibu.” Ayu jeda. “ Tapi kata Ayah, Bu Guru pasti maklum. Ayu bawa PR-nya hari ini, Bu”

“Tapi kan bukan tanggal merah, Ayu. Mestinya kamu tetap sekolah dong.”

“Ayu...” kata Ayu amat pelan. Hampir tak terdengar. “Ayu mesti ke pura, Bu.”

Aku hanya bisa diam dan merenung. Egoisnya aku yang menilai mereka bolos karena melaksanakan agamanya. Ini keberuntunganku lahir sebagai muslim di negara mayoritas muslim. Apa kabar saudara muslimku yang minoritas di seberang sana? Di negara yang Idul Fitrinya bukan tanggal merah. Bisakah mereka salat Idul Fitri tanpa disebut bolos? Aku tak boleh mau menang sendiri.

“Ya, sudah..” kataku dengan nada lunak. “Sekarang, Ayu, coba kamu ke depan,” kataku lagi. “Boleh kamu ceritakan apa itu Galungan?”

Aku bertepuk tangan mengajak siswa sekelas mengikuti. Saat Ayu melangkah malu-malu, diam-diam aku membubuhkan type-x ke tanda-tanda alfa. Kutulis izin. []

Thursday, March 21, 2013

Batas

Oleh Gabriella Ria Apriyani / @hujanriaa

Kakimu seolah dipancang di satu titik itu saja. Akibatnya kamu jadi tidak mampu bergerak, apalagi berpindah. Tidak mampu atau masih ragu?

Semua ini diawali oleh satu panggilan telepon dari sahabatmu yang kamu terima kurang-lebih satu jam lalu ketika kamu masih di rumah, baru selesai menikmati segarnya air dingin yang mengusir kantuk, dan siap melanjutkan ritual pagi dengan meminum secangkir kopi. Kamu masih ingat persis kata-kata yang diucapkan sahabatmu,

"Telur-telur untuk acara hari ini tertinggal di rumah. Bisa tolong kamu ambil dan anterin ke sini? Setengah jam lagi acara dimulai dan aku nggak mungkin ambil sendiri ke rumah."

Diucapkan dengan nada memohon yang membuatmu tidak mungkin berbuat apa-apa lagi selain menyanggupi. Semuanya dimulai sesimple itu, tetapi dampaknya belum habis sampai sekarang. Kamu diperangkap oleh dilema. Berdiri di depan gerbang gedung yang bertahtakan salib di puncak atapnya, menimbang-nimbang apakah harus masuk atau tidak.

Kamu masih ingat dengan jelas barisan-barisan nasehat yang kamu terima sejak kecil dari orang tuamu. Nasehat-nasehat yang bahkan masih sesekali kamu terima hingga sekarang.

"Gereja itu tempatnya para kafir Nak. Jangan dekat-dekat kesana! Nanti kafir juga kamu."

"Jangan pernah masuk ke tempat itu Nak! Merusak aqidah, bahaya! Allah tidak akan suka, masuk neraka kamu nanti."


Nasehat-nasehat semacam itu yang sudah memborbardirmu sejak kamu mulai diperkenalkan pada huruf-huruf Arab, menjadikanmu tumbuh dengan membangun batas yang jelas antara dirimu dengan bangunan itu. Sekalipun kamu tidak pernah melangkah keluar dari batas tersebut, sekali-kali pun tidak. Sampai saat ini.

Handphonemu kembali berdering. "Hey, kamu sudah sampai mana? Aku tunggu di dalam ya. Anak-anak sudah banyak yang datang, aku nggak bisa keluar."

Panggilan terputus. Tidak dengan dilemamu. Dilemamu masih terus berlanjut. Suara-suara yang terdengar dalam dirimu semakin banyak dan semakin ramai. Memprovokasi untuk melakukan ini dan itu. Ada yang berkata untuk bergegas karena kamu sudah ditunggu, dibutuhkan, dan memang kamulah satu-satunya harapan. Ada suara yang mengingatkan soal dosa, nasehat-nasehat orang tuanya, pelanggaran aqidah, dan murka Allah. Kamu takut api neraka.

Kalau kamu diberi kesempatan untuk memiliki kekuatan super saat ini, satu-satunya yang kamu inginkan adalah kemampuan untuk memindahkan barang dari jarak jauh. Tanpa harus berpindah, tanpa harus kamu sendiri yang mengantarkannya secara langsung. Semacam telekinesis, atau teleportasi yang khusus digunakan kepada benda-benda. Apapun itu, selama mampu menyelamatkanmu dari situasi sarat konflik batin seperti sekarang.

Tiba-tiba saja wajah sahabatmu itu terlintas di benakmu. Kamu ingat binar matanya setiap kali bercerita mengenai tingkah polah anak-anak di Sekolah Minggu. Kamu terpikir betapa kecewanya pasti anak-anak tersebut kalau keseluruhan acara berantakan hanya karena kamu tidak mau membuat satu langkah saja untuk memasuki gedung itu.

Akhirnya kemudian semua bayangan mengenai orang tua dan dosa menguap habis. Dan dengan kemantapan hati sambil berucap dalam hati, “Bismillahirrahmanirrahim…”, kamu melangkah memasuki bangunan dengan salib di puncak atapnya itu. Dengan satu langkah mantap, kamu mendorong batas yang selama ini diyakini dalam dirimu dan mendobraknya. Batas itu kini hancur, lebur... Keluar dari segenap pori-pori, mengalir jatuh bersama titik-titik keringat di sekujur tubuhmu. Habis sudah.

__________________________________

Ditulis oleh @hujanriaa buat #Pluks 
Bisa dibaca pula di blognya : http://inilahtandatitiknya.blogspot.com/2013/03/batas.html

Friday, March 1, 2013

Pada Dasarnya Adalah Sama

Oleh Rio Rahadian Tuasikal / @Riorahadiant



“Permisi, boleh duduk di sini?” tanya perempuan itu pada saya.

Saya menoleh. Saya merespon lewat bengong.

Sekilas saya perhatikan perempuan itu. Menelusuri tiap senti tubuhnya. Mukanya bingung. Membawa nampan berisi makan dan minumnya. Dia pasti terpaksa ingin duduk di sebelah saya. Soalnya restoran cepat saji ini penuh sekali sore itu. Memang hanya saya yang sedang duduk sendiri. Dua kursi di meja saya tidak terisi.

Sebentar, beri saya waktu. Saya berdiskusi dalam hati soal apakah perempuan ini boleh duduk di meja ini atau tidak. Perempuan itu matanya sipit dan kulitnya putih, beda etnis dengan saya. Intonasinya khas Surabaya, beda suku dengan saya. Kalung salib melingkari lehernya, beda agama dengan saya. Dia berbeda. Kesimpulan saya : tidak, terimakasih.
Dia diam yang menunggu. Saya masih diam.

Entah kebetulan atau apa, seketika di belakang perempuan itu lewatlah seorang pria botak. Memakai kaus kuning, jaketnya merah. Astaga ada Dalai Lama, ujar saya sempat-sempatnya berlelucon dalam hati. Kemudian bayangan Dalai Lama yang asli langsung mampir di kepala saya. Dia membawa pentungan, menghantamkannya pada pikiran saya yang sibuk sendiri.

Saya jadi ingat Dalai Lama pernah bilang, “Kita terlalu sibuk dengan perbedaan di permukaan, hingga lupa persamaan yang lebih esensial.”

Astaga! Saya baru sadar bahwa saya sebodoh ini. Kenapa saya terlalu sibuk dengan hal-hal permukaan. Saya sibuk menilai etnisnya, sukunya, agamanya, dan kalau sempat mungkin juga orientasi seksualnya. Saya belagak menganalisa. Saya sibuk mencari-cari perbedaan. Perbedaan yang sebenarnya di luar pilihan saya, dia dan semua orang.

Saya baru sadar bahwa saya sekonyol ini. Saya lupa bahwa dia dan saya makan asupan yang sama, mengunyah dengan metode serupa, menelan, mencerna, hingga akhirnya mengeluarkan makanan tadi dalam bentuk yang relatif senada. Saya lupa bahwa dia dan saya bernafas, berjalan, melihat, bicara, mengedipkan mata, tidur, hidup dan berkembang biak dengan cara yang sama. Ternyata dia sama. Saya lupa.

Dia diam yang bosan. Hampir pergi.

“Tunggu. Silakan duduk di sini,” akhirnya jawaban saya keluar juga.

Maka dia langsung duduk di sebelah saya.

“Terimakasih,” katanya sambil mengukir senyum.

Saya balas senyumnya sambil berujar dalam hati, “Maafkan saya, tadi saya lupa bahwa kamu, seperti saya, dan semua yang ada di sini pun, sama-sama manusia.” []