Thursday, April 25, 2013

Padmini (2)

Oleh Nita Nurdiani Putri / @NL_nurdianii

 
Dulu setahun yang lalu, aku sangat mengukai perubahanmu. Sayang Padmini, ini hanya berjalan beberapa bulan saja. Selanjutnya saja enek terhadapmu. Aku seperti tidak mengenalimu saat itu. Aku menganggapmu seperti orang asing.

Padmini, bukan aku menyalahkanmu dalam perubahanmu saat itu, tapi aku benar-benar tidak nyaman dengan adanya kamu saat itu.

Bahkan kamu sendiri dihadapanku selalu menyebutku sebagai orang yang belum mendapatkan hidayah dari Tuhan karena aku tidak sepaham dengan kamu yang baru. Kamu dulu itu, seumpama orang yang bertugas sebagai pencuci dosaku.

Padmini sayang, aku itu sahabatmu. Bukan temanmu. Aku sangat menyanyangimu, aku tidak menyesal dengan perubahanmu. Sayangnya, kamu saat sedang mabuk agama. Kamu bukan lagi orang yang berwawan luas yang aku kenal.

Sub-sub pembicaraanmu telah banyak berubah dan tema yang selalu kamu ambil adalah kebenaran agama. Kamu selalu melaknat orang langsung menghakami mereka dengan menganggap mereka sebagai penghuni neraka.

Harusnya kamu ketahui Padmini, masuk atau tidaknya seorang ke neraka adalah hak perogatif Tuhan. bukan manusia yang menentukan. Tuhan pasti tidak menciotakan agama untuk memecah belah umat manusia, hanya karena yang satu meras lebih eksklusif kebenarannya dari yang lain.

Padmini sayangku, aku hanya ingin kamu lebih menyadari dirimu saja. kenali dirimu dan belajar. Itu yang akan membuatmu lebih baik dari orang lain.



***

Padmini, sepertinya aku salah waktu berkunjung ke rumahmu. Aku menemukan Ria yang sedang berada di rumahmu. Bukan hari ini Karina harusnya aku datang, tapi kemarin. Tepat seminggu rentang waktu yang aku berikan untukmu berpikir apakah kamu apakah kamu akan bercerai atau tidak.

“Kamu tidak boleh cerai! Itu dosa besar!”

Ah... Ria. Kamu itu kenapa sih? Aku tak akan menyebut sebagai mantan teman baikku. Karena aku anggap kamu itu tetap sahabatku.

Ria, Padmini, hanya Tuhan yang mengatur dosa itu apa. yang aku ketahui saat ini. bercerai itu diperbolehkan Tuhan, tapi dibenci Tuhan. Padmini, kamu masih boleh bercerai.

“Ini kehendak Tuhan, Ini garis hidupnya,”

Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan? Ah... Ini sangat membingungkan

“Padmini, kamu tidak boleh sakit hati. karena surga sudah ada pada genggamanmu.Betapa bahagianya suamimu sudah menjadikanmu sebagai ratu bidadari,” Ria mengambil nafas dan,” kamu sudah dijamin masuk surga. Aku saja cemburu padamu. Kamu sudah bisa masuk surga. VVIP lagi.”

Ini sudah tidak masuk akal bagiku. Padmini, akalmu, logikamu dimana? Aku tahu wanita itu rata-rata hanya menggunakan 10% dari otaknya. Kemana 10% otakmu yang kamu pakai untuk berpikir? Ini sudah gila, Padmini.

Aku ingin bertanya padamu dan Ria, “Apa yang kalian yakini sebagai kebenaran?”

Kenapa seolah-olah kalian tidak punya ruang bicara atau berdiskusi dengan suami kalian? bahkan saat suami kalian melakukan kebohongan, kekeliruan atau kejahatan yang terselubung sekalipun? Kenapa kalian tak punya posisi tawar-menawar yang seimbang dalam rumah tangga?

Seharusnya ini dianggap cobaan dan ujian dari Tuhan itu lebih mungkin akibat dari perbuatan kita sendiri.

Aku akan beberkan. Suami itu telah bersekongkol sengan teman-temannya agar dapat bisa menikah lagi dengan seorang gadis dan dia berbohong, katanya dia sudah mendapatkan izin darimu untuk menikah lagi. Padahal nyatanya apa? dia tidak pernah meminta izin bukan?

Satu pertanyaan yang membuatku heran dalam kasusmu, “Untuk apa perempuan diciptakan?”

Bagiku yang pasti bukan hanya sekedar menyimpan mani lalu hamil dan melahirkan bukan? Ini keyakinanku. Perempuan bukan hanya sebagai alat instrumentasi seksual demi berkembangbiaknya spesies yang bernama Phytecantropus Erectus

Yang kedua pertanyaanku,”Apa yang membedakan kita (Perempuan) dengan laki-laki, di luar dari kelamin yang berbeda bentuk dan buah dada yang menonjol?

Thursday, April 11, 2013

Padmini (1)

Oleh Nita Nurdiani Putri / @NL_nurdianii


Haduh... aku tak tahu apa yang harus aku lakukan? Apalagi sebagai teman. Aku juga tak mengerti. Padmini sayang, kamu itu tampaknya sedang di pengaruhi kebodohanmu sendiri. Padmini kamu ini perempuan. Tepatnya manusia perempuan. Sebagai manusia aku dan kamu harus bergerak maju. Sebagai manusia perempuan juga, kita harus merasa wajib untuk maju dalam titik optimal.

Bukan hanya itu Padmini. Kamu dalam keadaanmu saat ini, berpikirlah rasional. Pergunakalah otakmu dengan jernih, hati nurani dan bekerjasamalah dengan manusia-manusia yang ada di sekitarmu.

Kita pernah berjanji bukan untuk bisa menjadi manusia yang mumpuni? Kemana dirimu saat ini? kamu yang dulu ajariku untuk bisa hidup dengan logika kita? Lalu kemana saat ini logikamu?

Padmini, kamu telah banyak berubah. Aku bahkan sudah tidak mengenali dirimu lagi saat ini. Pakaianmu, dirimu dan sifatmu yang dulu itu kemana?

“Kita akan jadi manusia perempuan yang berpotensi!” katamu sambil berapi-api.

Itu sekitar 2 tahun yang lalu kamu berbicara seperti itu.

Kamu saat ini hanya menangis saja. Seharian bahkan. Kasihan badanmu. Berbulan-bulan aku temuimu masih saja dalam kondisi yang seperti itu. Kamu menangis begitu saja. Priamu melakukan poligami?

“Terjadi atau tidaknya poligami ada di tangan kita loh?”

Aku juga bingung apa yang mengubah dirimu hingga pada akhirnya priamu melakukan poligami. Setahun yang lalu, aku senang dengan perubahanmu. Sangat senang. Bahkan kamu mengenakan hijab. Sebulan kemudian dari perubahanmu, kamu malah memlebar hijabmu.

3 bulan yang lalu, aku pernah bertemu dengan suamimu. Bercerita tentang kondisi yang marah dan terhina atas perlakuannya terhadapnya. Apalagi tentang poligami.

“Itu kan ujian untuk Padmini. Itu latihan ikhlas untuknya. Lebih patuh sama perintah tuhan. Ihklas dipoligami itu artinya berkorban untuk Tuhan loh...”

“Setiap manusia kan punya hak untuk tumbuh dan berkembang kan? berhak untuk mengeluarkan pendapat. Ini juga diatur dalam undang-undang,” aku membantahnya.

“Itu pola pikir orang kafir! Perempuan tidak boleh berpikir seperti itu. dunia ini sudah hancur. Ingin setara dengan laki-laki? ingin menjadi laki-laki?”

“Tapi Mas....?” aku tidak sependapat dengannya.

“Tugas perempuan itu utamanya di rumah. Jadi ibu sekaligus istri yang patuh dan ta’at terhadap suami. Biar ngerti dan takut sama Tuhan!”

Loh? Ini tuh apa? ucapku dalam hati saat itu.

Itu kata-kata kafir. Berarti aku dan kamu harus menanggung dosa secara koletif.

Sekarang, keadaanmu Padmini di keluarga. Kamu diacuhkan. Sudah tidak dianggap dan Mas Dannarmu hanya berkata kepadamu, “Imanmu lemah!”

Dengan keadaan ini aku tidak terima. Perempuan hanya dijadikan objek saja. perempuan sebagai ssstttt.... pabrik anak!

Ingatlah Padmini, saat perempuan tidak lagi dianggap sebagai manusia, hanya dibetinakan. Maka, runtuhlah nilai-nilai kehidupan. Satu lagi yang harus diingat, ketika perempuan tidak lagi bisa mengembangkan potensinya. Maka, runtuhlah nilai-nilai kemanusiaan.

Dia hanya melihat perspektif agama dalam satu sudut pandang. Tuhan bahkan mengajarkan dan memberikan pengetahuan kepada kita, bukan untuk saling membunuh, menyakiti dan menyengsarakan.

(bersambung ke Kamis depan)

Thursday, April 4, 2013

Sehabis Tujuh Belasan

Oleh Risdo Simangunsong / @RisdoMangun



Seorang perempuan kecil menghampiriku, ia bertanya: “Masihkah Kakak bangga dengan Indonesia? Masihkah Kakak cinta Indonesia?”

Tangan anak itu memegang merah-putih kecil, yang dipakai upacara tadi. Aku terdiam sejenak memandang wajahnya. Wajah itu penuh gundah dan sedih. Dalam benakku, aku bergulat tanya, akankah anak ini nanti bisa berdiri dengan kepala tegak di tengah teman sepergaulannya dari berbagai bangsa. Ataukah dia malu menyebut nama negeri yang hampir lebur diinjak-injak kebrengsekan ini.

Aku mencoba menghiburnya dengan mencoba mengingatkannya akan sejarah agung peradaban di bumi Nusantara, tapi aku sadar segala kisah itu hanya akan membuainya jika ia toh tak bangga atas keadaan kini.

Aku mencoba menejejalkan betapa indahnya falsafah kebhinekaan, tapi matanya sudah pasti lebih melihat betapa banyak kekerasan dibingkai ego-etnoreligi.

Lantas aku berusaha menggerus cerita tentang disiplin, kreatifitas, keramah-tamahan, keindahan, dan banyak anugerah ilahi lainnya bagi bangsa ini. Tapi aku khawatir ia hanya akan mengira itu adalah sempalan kecil dari sekian banyak kebobrokan.

Lalu aku mulai diam…

Hati-hati aku mulai berbisik:

“Dik, kita memang lahir di masa kita hampir tak punya lagi teladan untuk dibanggakan dari negeri ini … kepercayaan kita pada diri sendiri dan diri kita sebagai bangsa telah remuk redam diremas orang-orang dewasa, pemimpin, bapak dan ibu yang kita berikan hormat… kita jadi kecil hati, tak bangga bahkan semakin tak peduli…”

Aku genggam tangan anak itu… “Tapi tangan kecil kita ini bisa mengembalikan bahkan menopang kebanggaan luhur yang baru. Tangan ini dipakai dalam doa, dijejalkan dalam karya dan dianjungkan dalam gelora … bisa memberi suatu arti…”

“Bahwa Tuhan tak pernah salah mendaulatkan Indonesia sebagai suatu bangsa, bahwa Pertiwi takkan mati di hati orang yang mau mengabdi … Bahwa negeri ini masih punya kita dan begitu banyak orang yang mau mengembang nadi demi kebangkitan …”

Ia diam dalam ketakmengertian… bahasaku mungkin aneh baginya, tapi ia kemudian berkata:

“Jadi Allah sayang Indonesia, Kak?”

Sedikit tergagap aku jawab… “Ya, tentu saja. Kemerdekaan kita adalah hadiah dari-Nya… “ dalam hati aku berharap ia ingat alinea ketiga mukadimah konstitusi negeri ini.

Ia menitipkan bendera kecilnya ke tanganku, lalu mulailah tampangnya jadi syahdu, “Ya Allah…,” ia menengadahkan tangan, “Ampunilah dosa-dosa bangsa kami, ampunilah kami, aku juga sayang Indonesia ya Allah… aku pengen Indonesia bangkit dari kehancuran ya Allah.. Amin Ya Rabbal alamin”

Kucium bendera kecil itu, seraya membuat tanda salib, “Ya Tuhan yang diseru sekalian alam… Ya Tuhan yang berdaulat atas bangsa ini… dengarkanlah doa anak kecil ini, aku juga mengamininya ya Bapa…”

Aku tersenyum simpul… pemandangan kecil ini pasti sudah amat jarang terjadi di persada Nusantara… Tidak untuk doa bersama, mungkin juga tidak untuk karya bersama..

___________________________



Foto milik  : karangturi.com

Catatan dari penulis :


Dedikasi untuk nama-nama pencermin kerukunan:
Busyro Muqodas
Tina Talisa
Butet Kertadjasa
(Semoga nama mereka menunjukkan keindahan kebhinekaannya)
Dedikasi pula untuk setiap pejuang kerukunan demi kemajuan bangsa di manapun mereka berada.

Thursday, March 28, 2013

Absen

Oleh Rio Rahadian Tuasikal / @riorahadiant


Kemana siswa-siswaku ini? Heran sekali, di penghujung Maret ini kelasku tak pernah penuh. Selalu saja ada yang tak masuk. Bergantian, berturut-turut, tak beri kabar. Bagaimana mau jadi generasi bangsa bila sekolah saja ogah-ogahan?

Aku benarkan posisi jilbabku sebelum membuka buku absen. Aku periksa kolom kehadiran tiap siswa. Kemarin Ayu dan tiga siswa lain bolos tanpa kabar. Hari ini tiga siswa tadi bolos lagi. Dasar.

“Frans, Gilbert sama Cindy ke mana? Sudah bolos dua hari.”

Murid hening.

“Van, kamu tahu ke mana temanmu?”

“Eh, mereka bilang Paskah, Bu.” Jawab Ivan hati-hati.

“Loh bukannya tanggal merahnya besok?”

“Kata mereka Paskah dari hari ini, Bu. Sampai Minggu.”

Aku hanya diam sambil cemberut. Diam-diam aku menambah tanda alfa pada kolom absen siswa Kristen itu. Langsung dua hari alfa, kecuali Jumat yang memang tanggal merah. Aku lanjutkan menyusuri sudut kelas. Ada Ayu yang kemarin bolos.

“Ayu, kemarin kamu ke mana? Kamu belum kumpulkan PR.”

“Itu, Bu, kemarin Ayu Galungan.”

“Galungan? Agama apa kamu?” Kataku sedikit membentak.

“Hindu,” ucap Ayu lalu menunduk malu.

Aku mendengus tanda kesal.

“Bu, Ayu mau minta maaf. Mestinya kemarin Ayah Ayu minta izin sama Ibu.” Ayu jeda. “ Tapi kata Ayah, Bu Guru pasti maklum. Ayu bawa PR-nya hari ini, Bu”

“Tapi kan bukan tanggal merah, Ayu. Mestinya kamu tetap sekolah dong.”

“Ayu...” kata Ayu amat pelan. Hampir tak terdengar. “Ayu mesti ke pura, Bu.”

Aku hanya bisa diam dan merenung. Egoisnya aku yang menilai mereka bolos karena melaksanakan agamanya. Ini keberuntunganku lahir sebagai muslim di negara mayoritas muslim. Apa kabar saudara muslimku yang minoritas di seberang sana? Di negara yang Idul Fitrinya bukan tanggal merah. Bisakah mereka salat Idul Fitri tanpa disebut bolos? Aku tak boleh mau menang sendiri.

“Ya, sudah..” kataku dengan nada lunak. “Sekarang, Ayu, coba kamu ke depan,” kataku lagi. “Boleh kamu ceritakan apa itu Galungan?”

Aku bertepuk tangan mengajak siswa sekelas mengikuti. Saat Ayu melangkah malu-malu, diam-diam aku membubuhkan type-x ke tanda-tanda alfa. Kutulis izin. []

Thursday, March 21, 2013

Batas

Oleh Gabriella Ria Apriyani / @hujanriaa

Kakimu seolah dipancang di satu titik itu saja. Akibatnya kamu jadi tidak mampu bergerak, apalagi berpindah. Tidak mampu atau masih ragu?

Semua ini diawali oleh satu panggilan telepon dari sahabatmu yang kamu terima kurang-lebih satu jam lalu ketika kamu masih di rumah, baru selesai menikmati segarnya air dingin yang mengusir kantuk, dan siap melanjutkan ritual pagi dengan meminum secangkir kopi. Kamu masih ingat persis kata-kata yang diucapkan sahabatmu,

"Telur-telur untuk acara hari ini tertinggal di rumah. Bisa tolong kamu ambil dan anterin ke sini? Setengah jam lagi acara dimulai dan aku nggak mungkin ambil sendiri ke rumah."

Diucapkan dengan nada memohon yang membuatmu tidak mungkin berbuat apa-apa lagi selain menyanggupi. Semuanya dimulai sesimple itu, tetapi dampaknya belum habis sampai sekarang. Kamu diperangkap oleh dilema. Berdiri di depan gerbang gedung yang bertahtakan salib di puncak atapnya, menimbang-nimbang apakah harus masuk atau tidak.

Kamu masih ingat dengan jelas barisan-barisan nasehat yang kamu terima sejak kecil dari orang tuamu. Nasehat-nasehat yang bahkan masih sesekali kamu terima hingga sekarang.

"Gereja itu tempatnya para kafir Nak. Jangan dekat-dekat kesana! Nanti kafir juga kamu."

"Jangan pernah masuk ke tempat itu Nak! Merusak aqidah, bahaya! Allah tidak akan suka, masuk neraka kamu nanti."


Nasehat-nasehat semacam itu yang sudah memborbardirmu sejak kamu mulai diperkenalkan pada huruf-huruf Arab, menjadikanmu tumbuh dengan membangun batas yang jelas antara dirimu dengan bangunan itu. Sekalipun kamu tidak pernah melangkah keluar dari batas tersebut, sekali-kali pun tidak. Sampai saat ini.

Handphonemu kembali berdering. "Hey, kamu sudah sampai mana? Aku tunggu di dalam ya. Anak-anak sudah banyak yang datang, aku nggak bisa keluar."

Panggilan terputus. Tidak dengan dilemamu. Dilemamu masih terus berlanjut. Suara-suara yang terdengar dalam dirimu semakin banyak dan semakin ramai. Memprovokasi untuk melakukan ini dan itu. Ada yang berkata untuk bergegas karena kamu sudah ditunggu, dibutuhkan, dan memang kamulah satu-satunya harapan. Ada suara yang mengingatkan soal dosa, nasehat-nasehat orang tuanya, pelanggaran aqidah, dan murka Allah. Kamu takut api neraka.

Kalau kamu diberi kesempatan untuk memiliki kekuatan super saat ini, satu-satunya yang kamu inginkan adalah kemampuan untuk memindahkan barang dari jarak jauh. Tanpa harus berpindah, tanpa harus kamu sendiri yang mengantarkannya secara langsung. Semacam telekinesis, atau teleportasi yang khusus digunakan kepada benda-benda. Apapun itu, selama mampu menyelamatkanmu dari situasi sarat konflik batin seperti sekarang.

Tiba-tiba saja wajah sahabatmu itu terlintas di benakmu. Kamu ingat binar matanya setiap kali bercerita mengenai tingkah polah anak-anak di Sekolah Minggu. Kamu terpikir betapa kecewanya pasti anak-anak tersebut kalau keseluruhan acara berantakan hanya karena kamu tidak mau membuat satu langkah saja untuk memasuki gedung itu.

Akhirnya kemudian semua bayangan mengenai orang tua dan dosa menguap habis. Dan dengan kemantapan hati sambil berucap dalam hati, “Bismillahirrahmanirrahim…”, kamu melangkah memasuki bangunan dengan salib di puncak atapnya itu. Dengan satu langkah mantap, kamu mendorong batas yang selama ini diyakini dalam dirimu dan mendobraknya. Batas itu kini hancur, lebur... Keluar dari segenap pori-pori, mengalir jatuh bersama titik-titik keringat di sekujur tubuhmu. Habis sudah.

__________________________________

Ditulis oleh @hujanriaa buat #Pluks 
Bisa dibaca pula di blognya : http://inilahtandatitiknya.blogspot.com/2013/03/batas.html

Friday, March 1, 2013

Pada Dasarnya Adalah Sama

Oleh Rio Rahadian Tuasikal / @Riorahadiant



“Permisi, boleh duduk di sini?” tanya perempuan itu pada saya.

Saya menoleh. Saya merespon lewat bengong.

Sekilas saya perhatikan perempuan itu. Menelusuri tiap senti tubuhnya. Mukanya bingung. Membawa nampan berisi makan dan minumnya. Dia pasti terpaksa ingin duduk di sebelah saya. Soalnya restoran cepat saji ini penuh sekali sore itu. Memang hanya saya yang sedang duduk sendiri. Dua kursi di meja saya tidak terisi.

Sebentar, beri saya waktu. Saya berdiskusi dalam hati soal apakah perempuan ini boleh duduk di meja ini atau tidak. Perempuan itu matanya sipit dan kulitnya putih, beda etnis dengan saya. Intonasinya khas Surabaya, beda suku dengan saya. Kalung salib melingkari lehernya, beda agama dengan saya. Dia berbeda. Kesimpulan saya : tidak, terimakasih.
Dia diam yang menunggu. Saya masih diam.

Entah kebetulan atau apa, seketika di belakang perempuan itu lewatlah seorang pria botak. Memakai kaus kuning, jaketnya merah. Astaga ada Dalai Lama, ujar saya sempat-sempatnya berlelucon dalam hati. Kemudian bayangan Dalai Lama yang asli langsung mampir di kepala saya. Dia membawa pentungan, menghantamkannya pada pikiran saya yang sibuk sendiri.

Saya jadi ingat Dalai Lama pernah bilang, “Kita terlalu sibuk dengan perbedaan di permukaan, hingga lupa persamaan yang lebih esensial.”

Astaga! Saya baru sadar bahwa saya sebodoh ini. Kenapa saya terlalu sibuk dengan hal-hal permukaan. Saya sibuk menilai etnisnya, sukunya, agamanya, dan kalau sempat mungkin juga orientasi seksualnya. Saya belagak menganalisa. Saya sibuk mencari-cari perbedaan. Perbedaan yang sebenarnya di luar pilihan saya, dia dan semua orang.

Saya baru sadar bahwa saya sekonyol ini. Saya lupa bahwa dia dan saya makan asupan yang sama, mengunyah dengan metode serupa, menelan, mencerna, hingga akhirnya mengeluarkan makanan tadi dalam bentuk yang relatif senada. Saya lupa bahwa dia dan saya bernafas, berjalan, melihat, bicara, mengedipkan mata, tidur, hidup dan berkembang biak dengan cara yang sama. Ternyata dia sama. Saya lupa.

Dia diam yang bosan. Hampir pergi.

“Tunggu. Silakan duduk di sini,” akhirnya jawaban saya keluar juga.

Maka dia langsung duduk di sebelah saya.

“Terimakasih,” katanya sambil mengukir senyum.

Saya balas senyumnya sambil berujar dalam hati, “Maafkan saya, tadi saya lupa bahwa kamu, seperti saya, dan semua yang ada di sini pun, sama-sama manusia.” []

Wednesday, February 20, 2013

Batas


Oleh @riorahadiant




Terik. Kereta berhenti sejenak. Keringat turun di dahiku. Sial. Andai aku punya uang lebih agar tak perlu naik kereta ekonomi Surabaya-Bandung ini. Sudah bau, pengap, panas pula. Oh ini seperti ruang spa berjalan saja. Besar kemungkinan aku sampai Bandung tinggal nama.

Aku cek nama stasiun ini dari balik jendela. Kroya. Astaga, Bandung masih delapan jam lagi rupanya. Maka aku hanya bisa menghela napas.

“Permisi, Mas,” kata seorang bapak yang membawa tas besar. Medok sekali cara bicaranya. Dia pasti Jawa tulen. Bapak itu lalu menaruh tasnya ke atas dan duduk tepat di sampingku. Aku sebangku dengan Jawa. Lengkap sudah penderitaan.

Saat kereta mulai melaju lagi yang aku pikirkan cuma satu : keselamatanku. Masih jelas di ingatanku soal nasihat orangtuaku perihal orang Jawa. Orang Jawa itu licik. Orang Jawa itu egois. Orang Jawa itu penipu. Banyak di antara mereka yang pergi ke Tatar Sunda, tidak sukses, lalu jadi kriminal. Oh tidak, kini aku sebangku dengan bahaya itu.

Dia menggeser duduknya ke arahku. Aku tak mau didekat-dekat olehnya. Dompetku langsung kupindahkan ke saku depan. Aku menempelkan badan ke sudut kursi. Duduk miring yang tidak nyaman. Membuat wajahku makin leluasa diserang matahari lewat jendela. Panas. Aku haus. Ah sial, gara-gara bapak ini aku sampai lupa  beli makan di Kroya tadi.

Lagi-lagi keringat menyusuri dahiku. Mulutku ingin menguap tapi terpaksa aku tahan. Aku tak mau terlihat lelah olehnya. Dari tadi aku hanya bisa memasang wajah siaga, mencatat setiap geriknya.

“Mau makan, Mas?” Tanyanya tiba-tiba sambil menyodorkan nasi bungkus. Ah ini dia modus itu dimulai! Pasti makanan itu sudah diberi obat tidur. Bila aku terima aku akan tertidur dan dia bebas mencukil milikku semua. Tidak terimakasih. Aku tak mau jadi korban kriminal di kereta api seperti yang ramai diberitakan.

Aku menggeleng. Dia lalu permisi untuk makan. Aku tak menjawab, hanya menatapnya lekat. Orang itu makan, suap demi suap, biasa saja. Lah berarti tidak beracun!

Dia berbasa-basi pamit tidur. Silakan saja, ujarku ketus. Mau tidur saja bilang segala. Ah ya, itu pasti modus lagi. Itu hanya caranya membuatku berpikir bahwa dia tidur. Selanjutnya aku akan tidur dan dia bebas mengambil milikku. Oh aku tidak sebodoh itu.

Jam sembilan malam dan akhirnya sampai di Bandung. Wajahku sudah tidak berbentuk. Kepanasan, kelaparan, kurang tidur. Aku terpaksa menderita begitu karena sepenuhnya aku waspada akan bapak tadi. Tak sedetik pun aku biarkan diriku tak siaga. Selama itu aku terus khawatir akan berbagai modus yang diceritakan orangtuaku. Aku merasa dipenjara.

Aku ingin langsung turun tapi bapak ini menghalangi. Aku menunggu sejenak sampai bapak itu terbagun oleh senggolan penumpang yang mulai turun. Dia menoleh padaku lalu tersenyum. Dia mengambil tasnya lalu langsung turun tanpa bicara apa-apa. Meninggalkan aku yang menyadari satu hal. Ternyata aku sibuk oleh hal yang sebenarnya tidak ada.

Tidak ada. Ini sudah sampai Bandung dan pencurian itu tak ada. Aku baik-baik saja. Apa yang sebenarnya tadi aku takutkan? Menyesal sekali aku waspada berlebihan, mencurigai apa pun yang dilakukannya. Rasanya buang-buang tenaga, waktu dan kewarasan saja. Andai aku tidak menghiraukan perbedaan bapak itu, aku bisa duduk nyaman, makan, dan terutama tidur. Sikap kesukuan yang aku bayar mahal sekali. []

Thursday, February 14, 2013

Cokelat Valentine


Oleh @riorahadiant


Kamu senyum-senyum centil saat memasukkan cetakan cokelatmu ke kulkas. Barusan kamu selesaikan pesanan terakhir di valentine tahun ini. Pastilah kamu senang sekali karena usaha cokelat tahunanmu laku kembali. Mulai sejak dua tahun lalu, usahamu selalu kebanjiran order dari banyak orang. Dari temanmu, saudaramu, tetanggamu, atau teman dari saudara tetanggamu.

Rasanya tak perlu kujelaskan kenapa cokelatmu begitu diminati. Kamu hanya memakai bahan impor kualitas wahid : cokelat produk Belgia, susu vanila produk Prancis dan walnut produk Amerika. Racikan warisan nenekmu yang hanya diketahui kamu sendiri. Ditambah cara membuat yang begitu presisi dan detil, pesanan bisa kustom dan dipersonalisasi. Semuanya lalu dikemas dalam kotak kertas yang dihias pita-pita yang kamu kerjakan hingga dini hari.

Dari dua puluh tiga kotak yang aku lihat tahun ini, rasanya semua terasa lezat bahkan bila kotaknya saja. Tentu harga yang ajaib adalah sepadan untuk dedikasi yang kamu buat. Membayar rasa lelahmu yang sepekan ini jadi kurang tidur. Aku melihatmu bukan sebagai pengusaha, kamu tak lebih dari sekadar penggila cokelat.

Tiga puluh menit berselang kamu kembali ke kulkas Selanjutnya kamu akan mengemas cokelat-cokelat aduhai itu.

“Yah!” teriakmu mengagetkanku.

“Kenapa? Gagal?”

“Bukan, aku salah bahan.”

Aku memiringkan muka meminta penjelasan.

“Aku pakai cokelat impor non-halal, sedangkan temanku yang pesan muslim. Aku lupa.”

“Cokelat doang,” kataku malas-malasan.

Kamu geleng kepala lalu diam sebentar. Kamu keluarkan semuanya dari kulkas dan berlari ke kamar. Belepotan kamu pakai jaket lalu keluar rumah.

“Loh, kamu mau ke mana?”

“Ke minimarket, beli cokelat leleh halal.”

“Tapi temanmu enggak bakal tahu,” responku memaksa. Tak habis pikir aku melihatmu mengulang bikin cokelat dari awal. Itu artinya memakai dua jam lagi. Berpeluh lagi.

Kamu tersenyum.

“Kata kamu kalau cokelat lokal kurang manis?” pungkasku.

“Lebih baik cokelatnya kurang manis,” kamu jeda. “Daripada hubunganku dan temanku jadi tak harmonis.”

Aku bengong. 

“Cokelat yang tadi buat kamu saja,” katamu sambil tersenyum. Lalu kamu pergi. []

Selamat Valentine


Monday, February 11, 2013

Beda Warna

Oleh Rio Rahadian Tuasikal / @riorahadiant





Prak. Astagfirullah. 

“Enggak lihat aku lagi melukis, de?” bentakku padanya yang baru saja menjatuhkan paletku.

Kini dia berlari keluar kamarku sambil cengengesan. Meninggalkanku yang masih diburu kesal. Aku berdoa semoga barusan terakhir kali dia masuk kamarku. Demi apa pun aku kalap. Aku tak mau diganggu lagi. Lukisan ini baru kuberi warna dasar, baru selesai sepuluh persen. Dan ini tugas nirmana besok siang.

Aku sempatkan menghela napas. Lantas merapikan paletku yang kini belepotan warna merah.

Oh betul. Teman adikku yang satu itu paling aku benci. Kerjaanya tiada lain adalah menggangguku. Entah kesambet jin apa adikku mau berteman dengannya. Padahal adikku tahu dia Protestan, plus asli Batak. Lebih parah lagi, adikku sering mengajaknya main ke rumah. Dua hari sekali, setidaknya.

Seringkali aku terganggu dengan kehadirannya. Dia suka masuk kamarku tiba-tiba. Lalu suka meminta dibuatkan ini dan itu. Yang paling tak kusuka adalah dia tiba-tiba menyanyi kidung gereja. Keras-keras pula. Itu pasti dia pelajari di sekolah Minggu. Tak sadarkah dia bila ini rumah seorang muslim?

Oke, warna dasar merah siap sudah. Kini saatnya ornamen warna hitamnya. Tapi, eh, ke mana botol cat hitamku? Ah, ini pasti diambil dia! Dasar Batak Protestan.

Baru saja aku akan mengejar bocah menjengkelkan itu, dia masuk ke kamar dan melempar botol hitam tepat ke kanvasku. Melewati badanku. Dilanjutkan dengan botol cat biru yang ternyata juga dia bawa. Keduanya berhamburan, menghancurkan konsep lukisan yang kuidamkan. Tumpah ruah sampai lantai segala.

Astagfirullah.

Ya Allah, kenapa Engkau tidak menciptakan semua orang sama saja? Kenapa tidak semua dapat hidayah Islam saja? Kenapa tidak semua manusia ras mongoloid saja? Kenapa tidak semua manusia suku Jawa saja? Kenapa tidak Engkau ciptakan manusia yang serbasama saja? Bukankah itu bagiku, dan kurasa bagi banyak orang, akan jauh lebih mudah?

Cukup sudah. Aku naik darah.

“Heh, de!” teriakku dari dalam kamar.

Dia terperanjat dan langsung menunduk takut.

Sekilas aku lihat lukisanku yang hancur. Warna merahnya kini lebur dengan hitam dan biru. Ketiganya membentuk pola abstrak mirip wajah. Ketiganya saling menutupi. Saling melengkapi. Mewarnai. Indah.

Mungkin itu.

Allah Yang Maha Kuasa ternyata menjawab doaku saat itu juga. Kilat sekali.

Seperti pelangi yang hambar jika biru semata. Seperti lukisanku yang tak berkesan bila merah saja. Kini aku mengerti kenapa kami harus berbeda. Dia Batak dan saya Jawa. Dia Protestan dan saya Islam. Justru karena itu kami saling mewarnai. Saling melengkapi. Mengindahkan.  

Maka kalimat amarahku tadi kontan berubah jadi aneh, “besok lebih hati-hati, ya.”

Kami jeda.

“Ma... ma...“ kata dia sambil menahan air mata. “Maaf ya, kak.”

Dan aku hanya bisa tersenyum lalu mengambil kanvas baru. []