Oleh Rio Rahadian Tuasikal / @Riorahadiant
“Permisi, boleh duduk di sini?” tanya perempuan itu pada saya.
Saya menoleh. Saya merespon lewat bengong.
Sekilas saya perhatikan perempuan itu. Menelusuri tiap senti tubuhnya. Mukanya bingung. Membawa nampan berisi makan dan minumnya. Dia pasti terpaksa ingin duduk di sebelah saya. Soalnya restoran cepat saji ini penuh sekali sore itu. Memang hanya saya yang sedang duduk sendiri. Dua kursi di meja saya tidak terisi.
Sebentar, beri saya waktu. Saya berdiskusi dalam hati soal apakah perempuan ini boleh duduk di meja ini atau tidak. Perempuan itu matanya sipit dan kulitnya putih, beda etnis dengan saya. Intonasinya khas Surabaya, beda suku dengan saya. Kalung salib melingkari lehernya, beda agama dengan saya. Dia berbeda. Kesimpulan saya : tidak, terimakasih.
“Permisi, boleh duduk di sini?” tanya perempuan itu pada saya.
Saya menoleh. Saya merespon lewat bengong.
Sekilas saya perhatikan perempuan itu. Menelusuri tiap senti tubuhnya. Mukanya bingung. Membawa nampan berisi makan dan minumnya. Dia pasti terpaksa ingin duduk di sebelah saya. Soalnya restoran cepat saji ini penuh sekali sore itu. Memang hanya saya yang sedang duduk sendiri. Dua kursi di meja saya tidak terisi.
Sebentar, beri saya waktu. Saya berdiskusi dalam hati soal apakah perempuan ini boleh duduk di meja ini atau tidak. Perempuan itu matanya sipit dan kulitnya putih, beda etnis dengan saya. Intonasinya khas Surabaya, beda suku dengan saya. Kalung salib melingkari lehernya, beda agama dengan saya. Dia berbeda. Kesimpulan saya : tidak, terimakasih.
Dia diam yang menunggu. Saya masih diam.
Entah kebetulan atau apa, seketika di belakang perempuan itu lewatlah seorang pria botak. Memakai kaus kuning, jaketnya merah. Astaga ada Dalai Lama, ujar saya sempat-sempatnya berlelucon dalam hati. Kemudian bayangan Dalai Lama yang asli langsung mampir di kepala saya. Dia membawa pentungan, menghantamkannya pada pikiran saya yang sibuk sendiri.
Saya jadi ingat Dalai Lama pernah bilang, “Kita terlalu sibuk dengan perbedaan di permukaan, hingga lupa persamaan yang lebih esensial.”
Astaga! Saya baru sadar bahwa saya sebodoh ini. Kenapa saya terlalu sibuk dengan hal-hal permukaan. Saya sibuk menilai etnisnya, sukunya, agamanya, dan kalau sempat mungkin juga orientasi seksualnya. Saya belagak menganalisa. Saya sibuk mencari-cari perbedaan. Perbedaan yang sebenarnya di luar pilihan saya, dia dan semua orang.
Saya baru sadar bahwa saya sekonyol ini. Saya lupa bahwa dia dan saya makan asupan yang sama, mengunyah dengan metode serupa, menelan, mencerna, hingga akhirnya mengeluarkan makanan tadi dalam bentuk yang relatif senada. Saya lupa bahwa dia dan saya bernafas, berjalan, melihat, bicara, mengedipkan mata, tidur, hidup dan berkembang biak dengan cara yang sama. Ternyata dia sama. Saya lupa.
Dia diam yang bosan. Hampir pergi.
“Tunggu. Silakan duduk di sini,” akhirnya jawaban saya keluar juga.
Maka dia langsung duduk di sebelah saya.
“Terimakasih,” katanya sambil mengukir senyum.
Saya balas senyumnya sambil berujar dalam hati, “Maafkan saya, tadi saya lupa bahwa kamu, seperti saya, dan semua yang ada di sini pun, sama-sama manusia.” []
Entah kebetulan atau apa, seketika di belakang perempuan itu lewatlah seorang pria botak. Memakai kaus kuning, jaketnya merah. Astaga ada Dalai Lama, ujar saya sempat-sempatnya berlelucon dalam hati. Kemudian bayangan Dalai Lama yang asli langsung mampir di kepala saya. Dia membawa pentungan, menghantamkannya pada pikiran saya yang sibuk sendiri.
Saya jadi ingat Dalai Lama pernah bilang, “Kita terlalu sibuk dengan perbedaan di permukaan, hingga lupa persamaan yang lebih esensial.”
Astaga! Saya baru sadar bahwa saya sebodoh ini. Kenapa saya terlalu sibuk dengan hal-hal permukaan. Saya sibuk menilai etnisnya, sukunya, agamanya, dan kalau sempat mungkin juga orientasi seksualnya. Saya belagak menganalisa. Saya sibuk mencari-cari perbedaan. Perbedaan yang sebenarnya di luar pilihan saya, dia dan semua orang.
Saya baru sadar bahwa saya sekonyol ini. Saya lupa bahwa dia dan saya makan asupan yang sama, mengunyah dengan metode serupa, menelan, mencerna, hingga akhirnya mengeluarkan makanan tadi dalam bentuk yang relatif senada. Saya lupa bahwa dia dan saya bernafas, berjalan, melihat, bicara, mengedipkan mata, tidur, hidup dan berkembang biak dengan cara yang sama. Ternyata dia sama. Saya lupa.
Dia diam yang bosan. Hampir pergi.
“Tunggu. Silakan duduk di sini,” akhirnya jawaban saya keluar juga.
Maka dia langsung duduk di sebelah saya.
“Terimakasih,” katanya sambil mengukir senyum.
Saya balas senyumnya sambil berujar dalam hati, “Maafkan saya, tadi saya lupa bahwa kamu, seperti saya, dan semua yang ada di sini pun, sama-sama manusia.” []

No comments:
Post a Comment