Oleh @riorahadiant
Terik.
Kereta berhenti sejenak. Keringat turun di dahiku. Sial. Andai aku punya uang
lebih agar tak perlu naik kereta ekonomi Surabaya-Bandung ini. Sudah bau, pengap,
panas pula. Oh ini seperti ruang spa berjalan saja. Besar kemungkinan aku sampai
Bandung tinggal nama.
Aku
cek nama stasiun ini dari balik jendela. Kroya. Astaga, Bandung masih delapan
jam lagi rupanya. Maka aku hanya bisa menghela napas.
“Permisi,
Mas,” kata seorang bapak yang membawa tas besar. Medok sekali cara bicaranya.
Dia pasti Jawa tulen. Bapak itu lalu menaruh tasnya ke atas dan duduk tepat di
sampingku. Aku sebangku dengan Jawa. Lengkap sudah penderitaan.
Saat
kereta mulai melaju lagi yang aku pikirkan cuma satu : keselamatanku. Masih
jelas di ingatanku soal nasihat orangtuaku perihal orang Jawa. Orang Jawa itu
licik. Orang Jawa itu egois. Orang Jawa itu penipu. Banyak di antara mereka
yang pergi ke Tatar Sunda, tidak sukses, lalu jadi kriminal. Oh tidak, kini aku
sebangku dengan bahaya itu.
Dia
menggeser duduknya ke arahku. Aku tak mau didekat-dekat olehnya. Dompetku
langsung kupindahkan ke saku depan. Aku menempelkan badan ke sudut kursi. Duduk
miring yang tidak nyaman. Membuat wajahku makin leluasa diserang matahari lewat
jendela. Panas. Aku haus. Ah sial, gara-gara bapak ini aku sampai lupa beli makan di Kroya tadi.
Lagi-lagi
keringat menyusuri dahiku. Mulutku ingin menguap tapi terpaksa aku tahan. Aku
tak mau terlihat lelah olehnya. Dari tadi aku hanya bisa memasang wajah siaga,
mencatat setiap geriknya.
“Mau
makan, Mas?” Tanyanya tiba-tiba sambil menyodorkan nasi bungkus. Ah ini dia
modus itu dimulai! Pasti makanan itu sudah diberi obat tidur. Bila aku terima
aku akan tertidur dan dia bebas mencukil milikku semua. Tidak terimakasih. Aku
tak mau jadi korban kriminal di kereta api seperti yang ramai diberitakan.
Aku
menggeleng. Dia lalu permisi untuk makan. Aku tak menjawab, hanya menatapnya
lekat. Orang itu makan, suap demi suap, biasa saja. Lah berarti tidak beracun!
Dia
berbasa-basi pamit tidur. Silakan saja, ujarku ketus. Mau tidur saja bilang
segala. Ah ya, itu pasti modus lagi. Itu hanya caranya membuatku berpikir bahwa
dia tidur. Selanjutnya aku akan tidur dan dia bebas mengambil milikku. Oh aku
tidak sebodoh itu.
Jam
sembilan malam dan akhirnya sampai di Bandung. Wajahku sudah tidak berbentuk. Kepanasan,
kelaparan, kurang tidur. Aku terpaksa menderita begitu karena sepenuhnya aku
waspada akan bapak tadi. Tak sedetik pun aku biarkan diriku tak siaga. Selama
itu aku terus khawatir akan berbagai modus yang diceritakan orangtuaku. Aku
merasa dipenjara.
Aku
ingin langsung turun tapi bapak ini menghalangi. Aku menunggu sejenak sampai
bapak itu terbagun oleh senggolan penumpang yang mulai turun. Dia menoleh
padaku lalu tersenyum. Dia mengambil tasnya lalu langsung turun tanpa bicara
apa-apa. Meninggalkan aku yang menyadari satu hal. Ternyata aku sibuk oleh hal
yang sebenarnya tidak ada.
Tidak
ada. Ini sudah sampai Bandung dan pencurian itu tak ada. Aku baik-baik saja. Apa
yang sebenarnya tadi aku takutkan? Menyesal sekali aku waspada berlebihan, mencurigai
apa pun yang dilakukannya. Rasanya buang-buang tenaga, waktu dan kewarasan
saja. Andai aku tidak menghiraukan perbedaan bapak itu, aku bisa duduk nyaman, makan,
dan terutama tidur. Sikap kesukuan yang aku bayar mahal sekali. []




