Thursday, April 25, 2013

Padmini (2)

Oleh Nita Nurdiani Putri / @NL_nurdianii

 
Dulu setahun yang lalu, aku sangat mengukai perubahanmu. Sayang Padmini, ini hanya berjalan beberapa bulan saja. Selanjutnya saja enek terhadapmu. Aku seperti tidak mengenalimu saat itu. Aku menganggapmu seperti orang asing.

Padmini, bukan aku menyalahkanmu dalam perubahanmu saat itu, tapi aku benar-benar tidak nyaman dengan adanya kamu saat itu.

Bahkan kamu sendiri dihadapanku selalu menyebutku sebagai orang yang belum mendapatkan hidayah dari Tuhan karena aku tidak sepaham dengan kamu yang baru. Kamu dulu itu, seumpama orang yang bertugas sebagai pencuci dosaku.

Padmini sayang, aku itu sahabatmu. Bukan temanmu. Aku sangat menyanyangimu, aku tidak menyesal dengan perubahanmu. Sayangnya, kamu saat sedang mabuk agama. Kamu bukan lagi orang yang berwawan luas yang aku kenal.

Sub-sub pembicaraanmu telah banyak berubah dan tema yang selalu kamu ambil adalah kebenaran agama. Kamu selalu melaknat orang langsung menghakami mereka dengan menganggap mereka sebagai penghuni neraka.

Harusnya kamu ketahui Padmini, masuk atau tidaknya seorang ke neraka adalah hak perogatif Tuhan. bukan manusia yang menentukan. Tuhan pasti tidak menciotakan agama untuk memecah belah umat manusia, hanya karena yang satu meras lebih eksklusif kebenarannya dari yang lain.

Padmini sayangku, aku hanya ingin kamu lebih menyadari dirimu saja. kenali dirimu dan belajar. Itu yang akan membuatmu lebih baik dari orang lain.



***

Padmini, sepertinya aku salah waktu berkunjung ke rumahmu. Aku menemukan Ria yang sedang berada di rumahmu. Bukan hari ini Karina harusnya aku datang, tapi kemarin. Tepat seminggu rentang waktu yang aku berikan untukmu berpikir apakah kamu apakah kamu akan bercerai atau tidak.

“Kamu tidak boleh cerai! Itu dosa besar!”

Ah... Ria. Kamu itu kenapa sih? Aku tak akan menyebut sebagai mantan teman baikku. Karena aku anggap kamu itu tetap sahabatku.

Ria, Padmini, hanya Tuhan yang mengatur dosa itu apa. yang aku ketahui saat ini. bercerai itu diperbolehkan Tuhan, tapi dibenci Tuhan. Padmini, kamu masih boleh bercerai.

“Ini kehendak Tuhan, Ini garis hidupnya,”

Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan? Ah... Ini sangat membingungkan

“Padmini, kamu tidak boleh sakit hati. karena surga sudah ada pada genggamanmu.Betapa bahagianya suamimu sudah menjadikanmu sebagai ratu bidadari,” Ria mengambil nafas dan,” kamu sudah dijamin masuk surga. Aku saja cemburu padamu. Kamu sudah bisa masuk surga. VVIP lagi.”

Ini sudah tidak masuk akal bagiku. Padmini, akalmu, logikamu dimana? Aku tahu wanita itu rata-rata hanya menggunakan 10% dari otaknya. Kemana 10% otakmu yang kamu pakai untuk berpikir? Ini sudah gila, Padmini.

Aku ingin bertanya padamu dan Ria, “Apa yang kalian yakini sebagai kebenaran?”

Kenapa seolah-olah kalian tidak punya ruang bicara atau berdiskusi dengan suami kalian? bahkan saat suami kalian melakukan kebohongan, kekeliruan atau kejahatan yang terselubung sekalipun? Kenapa kalian tak punya posisi tawar-menawar yang seimbang dalam rumah tangga?

Seharusnya ini dianggap cobaan dan ujian dari Tuhan itu lebih mungkin akibat dari perbuatan kita sendiri.

Aku akan beberkan. Suami itu telah bersekongkol sengan teman-temannya agar dapat bisa menikah lagi dengan seorang gadis dan dia berbohong, katanya dia sudah mendapatkan izin darimu untuk menikah lagi. Padahal nyatanya apa? dia tidak pernah meminta izin bukan?

Satu pertanyaan yang membuatku heran dalam kasusmu, “Untuk apa perempuan diciptakan?”

Bagiku yang pasti bukan hanya sekedar menyimpan mani lalu hamil dan melahirkan bukan? Ini keyakinanku. Perempuan bukan hanya sebagai alat instrumentasi seksual demi berkembangbiaknya spesies yang bernama Phytecantropus Erectus

Yang kedua pertanyaanku,”Apa yang membedakan kita (Perempuan) dengan laki-laki, di luar dari kelamin yang berbeda bentuk dan buah dada yang menonjol?

Thursday, April 11, 2013

Padmini (1)

Oleh Nita Nurdiani Putri / @NL_nurdianii


Haduh... aku tak tahu apa yang harus aku lakukan? Apalagi sebagai teman. Aku juga tak mengerti. Padmini sayang, kamu itu tampaknya sedang di pengaruhi kebodohanmu sendiri. Padmini kamu ini perempuan. Tepatnya manusia perempuan. Sebagai manusia aku dan kamu harus bergerak maju. Sebagai manusia perempuan juga, kita harus merasa wajib untuk maju dalam titik optimal.

Bukan hanya itu Padmini. Kamu dalam keadaanmu saat ini, berpikirlah rasional. Pergunakalah otakmu dengan jernih, hati nurani dan bekerjasamalah dengan manusia-manusia yang ada di sekitarmu.

Kita pernah berjanji bukan untuk bisa menjadi manusia yang mumpuni? Kemana dirimu saat ini? kamu yang dulu ajariku untuk bisa hidup dengan logika kita? Lalu kemana saat ini logikamu?

Padmini, kamu telah banyak berubah. Aku bahkan sudah tidak mengenali dirimu lagi saat ini. Pakaianmu, dirimu dan sifatmu yang dulu itu kemana?

“Kita akan jadi manusia perempuan yang berpotensi!” katamu sambil berapi-api.

Itu sekitar 2 tahun yang lalu kamu berbicara seperti itu.

Kamu saat ini hanya menangis saja. Seharian bahkan. Kasihan badanmu. Berbulan-bulan aku temuimu masih saja dalam kondisi yang seperti itu. Kamu menangis begitu saja. Priamu melakukan poligami?

“Terjadi atau tidaknya poligami ada di tangan kita loh?”

Aku juga bingung apa yang mengubah dirimu hingga pada akhirnya priamu melakukan poligami. Setahun yang lalu, aku senang dengan perubahanmu. Sangat senang. Bahkan kamu mengenakan hijab. Sebulan kemudian dari perubahanmu, kamu malah memlebar hijabmu.

3 bulan yang lalu, aku pernah bertemu dengan suamimu. Bercerita tentang kondisi yang marah dan terhina atas perlakuannya terhadapnya. Apalagi tentang poligami.

“Itu kan ujian untuk Padmini. Itu latihan ikhlas untuknya. Lebih patuh sama perintah tuhan. Ihklas dipoligami itu artinya berkorban untuk Tuhan loh...”

“Setiap manusia kan punya hak untuk tumbuh dan berkembang kan? berhak untuk mengeluarkan pendapat. Ini juga diatur dalam undang-undang,” aku membantahnya.

“Itu pola pikir orang kafir! Perempuan tidak boleh berpikir seperti itu. dunia ini sudah hancur. Ingin setara dengan laki-laki? ingin menjadi laki-laki?”

“Tapi Mas....?” aku tidak sependapat dengannya.

“Tugas perempuan itu utamanya di rumah. Jadi ibu sekaligus istri yang patuh dan ta’at terhadap suami. Biar ngerti dan takut sama Tuhan!”

Loh? Ini tuh apa? ucapku dalam hati saat itu.

Itu kata-kata kafir. Berarti aku dan kamu harus menanggung dosa secara koletif.

Sekarang, keadaanmu Padmini di keluarga. Kamu diacuhkan. Sudah tidak dianggap dan Mas Dannarmu hanya berkata kepadamu, “Imanmu lemah!”

Dengan keadaan ini aku tidak terima. Perempuan hanya dijadikan objek saja. perempuan sebagai ssstttt.... pabrik anak!

Ingatlah Padmini, saat perempuan tidak lagi dianggap sebagai manusia, hanya dibetinakan. Maka, runtuhlah nilai-nilai kehidupan. Satu lagi yang harus diingat, ketika perempuan tidak lagi bisa mengembangkan potensinya. Maka, runtuhlah nilai-nilai kemanusiaan.

Dia hanya melihat perspektif agama dalam satu sudut pandang. Tuhan bahkan mengajarkan dan memberikan pengetahuan kepada kita, bukan untuk saling membunuh, menyakiti dan menyengsarakan.

(bersambung ke Kamis depan)

Thursday, April 4, 2013

Sehabis Tujuh Belasan

Oleh Risdo Simangunsong / @RisdoMangun



Seorang perempuan kecil menghampiriku, ia bertanya: “Masihkah Kakak bangga dengan Indonesia? Masihkah Kakak cinta Indonesia?”

Tangan anak itu memegang merah-putih kecil, yang dipakai upacara tadi. Aku terdiam sejenak memandang wajahnya. Wajah itu penuh gundah dan sedih. Dalam benakku, aku bergulat tanya, akankah anak ini nanti bisa berdiri dengan kepala tegak di tengah teman sepergaulannya dari berbagai bangsa. Ataukah dia malu menyebut nama negeri yang hampir lebur diinjak-injak kebrengsekan ini.

Aku mencoba menghiburnya dengan mencoba mengingatkannya akan sejarah agung peradaban di bumi Nusantara, tapi aku sadar segala kisah itu hanya akan membuainya jika ia toh tak bangga atas keadaan kini.

Aku mencoba menejejalkan betapa indahnya falsafah kebhinekaan, tapi matanya sudah pasti lebih melihat betapa banyak kekerasan dibingkai ego-etnoreligi.

Lantas aku berusaha menggerus cerita tentang disiplin, kreatifitas, keramah-tamahan, keindahan, dan banyak anugerah ilahi lainnya bagi bangsa ini. Tapi aku khawatir ia hanya akan mengira itu adalah sempalan kecil dari sekian banyak kebobrokan.

Lalu aku mulai diam…

Hati-hati aku mulai berbisik:

“Dik, kita memang lahir di masa kita hampir tak punya lagi teladan untuk dibanggakan dari negeri ini … kepercayaan kita pada diri sendiri dan diri kita sebagai bangsa telah remuk redam diremas orang-orang dewasa, pemimpin, bapak dan ibu yang kita berikan hormat… kita jadi kecil hati, tak bangga bahkan semakin tak peduli…”

Aku genggam tangan anak itu… “Tapi tangan kecil kita ini bisa mengembalikan bahkan menopang kebanggaan luhur yang baru. Tangan ini dipakai dalam doa, dijejalkan dalam karya dan dianjungkan dalam gelora … bisa memberi suatu arti…”

“Bahwa Tuhan tak pernah salah mendaulatkan Indonesia sebagai suatu bangsa, bahwa Pertiwi takkan mati di hati orang yang mau mengabdi … Bahwa negeri ini masih punya kita dan begitu banyak orang yang mau mengembang nadi demi kebangkitan …”

Ia diam dalam ketakmengertian… bahasaku mungkin aneh baginya, tapi ia kemudian berkata:

“Jadi Allah sayang Indonesia, Kak?”

Sedikit tergagap aku jawab… “Ya, tentu saja. Kemerdekaan kita adalah hadiah dari-Nya… “ dalam hati aku berharap ia ingat alinea ketiga mukadimah konstitusi negeri ini.

Ia menitipkan bendera kecilnya ke tanganku, lalu mulailah tampangnya jadi syahdu, “Ya Allah…,” ia menengadahkan tangan, “Ampunilah dosa-dosa bangsa kami, ampunilah kami, aku juga sayang Indonesia ya Allah… aku pengen Indonesia bangkit dari kehancuran ya Allah.. Amin Ya Rabbal alamin”

Kucium bendera kecil itu, seraya membuat tanda salib, “Ya Tuhan yang diseru sekalian alam… Ya Tuhan yang berdaulat atas bangsa ini… dengarkanlah doa anak kecil ini, aku juga mengamininya ya Bapa…”

Aku tersenyum simpul… pemandangan kecil ini pasti sudah amat jarang terjadi di persada Nusantara… Tidak untuk doa bersama, mungkin juga tidak untuk karya bersama..

___________________________



Foto milik  : karangturi.com

Catatan dari penulis :


Dedikasi untuk nama-nama pencermin kerukunan:
Busyro Muqodas
Tina Talisa
Butet Kertadjasa
(Semoga nama mereka menunjukkan keindahan kebhinekaannya)
Dedikasi pula untuk setiap pejuang kerukunan demi kemajuan bangsa di manapun mereka berada.