Harian Kompas, di penghujung
2012, menampilan dua opini senafas. Opini bertajuk “Mencegah Radikalisme” bersebelahan
dengan “Intoleransi Agama”. Keduanya hanya dua dari ratusan tulisan
soal pluralisme yang terbit sepanjang 2012. Semuanya menawarkan solusi, rindu
pada Indonesia berwajah elok.
Tahun 2012 pula, angka kekerasan tidak juga turun. Di
artikel “Intoleransi Agama”, Survey
The Wahid Institute November 2012 juga menyebutkan, ada 193 kasus pelanggaran
atas kebebasan beragama lewat kekerasan,
pemaksaan, dan pelarangan.
Kondisi
di atas menjelaskan betapa Indonesia adalah paradoks. Tulisan dan
kekerasan terjadi berbarengan, tak berhubungan. Kondisi di lapangan menunjukkan
ada senjang antara kedua belah pihak. Antara pegiat keragaman dan bukan.
Semacam tidak nyambung. Sibuk sendiri.
Bisa
jadi ada ratusan artikel, opini dan makalah soal toleransi di Indonesia.
Namun semuanya terbatas di
kalangan sendiri. Media
komunitas tak jarang terjebak pada tribalisme baru antara pluralis dan yang
tidak. Alhasil, pembacanya
adalah aktivis
keragaman, akademisi dan tokoh
agama moderat,
yang selalu sepakat untuk sepakat. Justru di tempat lain, pelaku kekerasan
adalah orang awam, di level akar rumput, mudah diprovokasi, yang tak punya
akses. Tulisan pun berakhir jadi menara gading.
Masyarakat
inilah yang perlu akses pada ide
toleransi. Merekalah yang kebingungan dengan asas pergaulan yang tepat. Lalu bagaimana
memasyarakatkan pluralisme? Soal cara menyajikan toleransi kepada mereka yang
jarang baca koran, makalah, apalagi jurnal ilmiah.
Di
antara tiga bentuk tulisan, cerita pendek punya tempat yang istimewa. Sebagai
fiksi, cerpen bisa dibaca dari profesor hingga provokator. Cerpen mampu
menerjemahkan ide-ide pluralisme menjadi gramatika publik. Tidak jatuh pada
tipologi teori-teori akademik yang ditulis dalam bahasa langit.
Cerpen adalah cara
yang merakyat, tidak neko-neko dan sederhana. Lewat kisah interaksi orang
Sunda dan Tionghoa misalnya, orang-orang bisa belajar merobohkan stereotip.
Melalui tema sehari-hari inilah titik masuk itu dibuka. Selanjutnya publik
mengerti bahwa
pluralisme bisa dilakukan di depan pagar rumah. Maka tanpa
perlu seminar hak azasi, mereka sudah belajar toleransi.
Melalui cerita pendek, menara gading pluralisme berubah
jadi mercusuar yang rupawan. Mercusuar yang menyediakan arah di antara media
utama yang kadang bias. Maka
pada akhirnya, pluralisme tidak hanya jadi cerita-cerita pendek, tapi jadi
narasi besar yang dirapal tiap warga Indonesia. []

No comments:
Post a Comment