Oleh Nita Nurdiani Putri / @NL_nurdianii
Dulu setahun yang lalu, aku sangat mengukai perubahanmu. Sayang Padmini, ini hanya berjalan beberapa bulan saja. Selanjutnya saja enek terhadapmu. Aku seperti tidak mengenalimu saat itu. Aku menganggapmu seperti orang asing.
Padmini, bukan aku menyalahkanmu dalam perubahanmu saat itu, tapi aku benar-benar tidak nyaman dengan adanya kamu saat itu.
Bahkan kamu sendiri dihadapanku selalu menyebutku sebagai orang yang belum mendapatkan hidayah dari Tuhan karena aku tidak sepaham dengan kamu yang baru. Kamu dulu itu, seumpama orang yang bertugas sebagai pencuci dosaku.
Padmini sayang, aku itu sahabatmu. Bukan temanmu. Aku sangat menyanyangimu, aku tidak menyesal dengan perubahanmu. Sayangnya, kamu saat sedang mabuk agama. Kamu bukan lagi orang yang berwawan luas yang aku kenal.
Sub-sub pembicaraanmu telah banyak berubah dan tema yang selalu kamu ambil adalah kebenaran agama. Kamu selalu melaknat orang langsung menghakami mereka dengan menganggap mereka sebagai penghuni neraka.
Harusnya kamu ketahui Padmini, masuk atau tidaknya seorang ke neraka adalah hak perogatif Tuhan. bukan manusia yang menentukan. Tuhan pasti tidak menciotakan agama untuk memecah belah umat manusia, hanya karena yang satu meras lebih eksklusif kebenarannya dari yang lain.
Padmini sayangku, aku hanya ingin kamu lebih menyadari dirimu saja. kenali dirimu dan belajar. Itu yang akan membuatmu lebih baik dari orang lain.
***
Padmini, sepertinya aku salah waktu berkunjung ke rumahmu. Aku menemukan Ria yang sedang berada di rumahmu. Bukan hari ini Karina harusnya aku datang, tapi kemarin. Tepat seminggu rentang waktu yang aku berikan untukmu berpikir apakah kamu apakah kamu akan bercerai atau tidak.
“Kamu tidak boleh cerai! Itu dosa besar!”
Ah... Ria. Kamu itu kenapa sih? Aku tak akan menyebut sebagai mantan teman baikku. Karena aku anggap kamu itu tetap sahabatku.
Ria, Padmini, hanya Tuhan yang mengatur dosa itu apa. yang aku ketahui saat ini. bercerai itu diperbolehkan Tuhan, tapi dibenci Tuhan. Padmini, kamu masih boleh bercerai.
“Ini kehendak Tuhan, Ini garis hidupnya,”
Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan? Ah... Ini sangat membingungkan
“Padmini, kamu tidak boleh sakit hati. karena surga sudah ada pada genggamanmu.Betapa bahagianya suamimu sudah menjadikanmu sebagai ratu bidadari,” Ria mengambil nafas dan,” kamu sudah dijamin masuk surga. Aku saja cemburu padamu. Kamu sudah bisa masuk surga. VVIP lagi.”
Ini sudah tidak masuk akal bagiku. Padmini, akalmu, logikamu dimana? Aku tahu wanita itu rata-rata hanya menggunakan 10% dari otaknya. Kemana 10% otakmu yang kamu pakai untuk berpikir? Ini sudah gila, Padmini.
Aku ingin bertanya padamu dan Ria, “Apa yang kalian yakini sebagai kebenaran?”
Kenapa seolah-olah kalian tidak punya ruang bicara atau berdiskusi dengan suami kalian? bahkan saat suami kalian melakukan kebohongan, kekeliruan atau kejahatan yang terselubung sekalipun? Kenapa kalian tak punya posisi tawar-menawar yang seimbang dalam rumah tangga?
Seharusnya ini dianggap cobaan dan ujian dari Tuhan itu lebih mungkin akibat dari perbuatan kita sendiri.
Aku akan beberkan. Suami itu telah bersekongkol sengan teman-temannya agar dapat bisa menikah lagi dengan seorang gadis dan dia berbohong, katanya dia sudah mendapatkan izin darimu untuk menikah lagi. Padahal nyatanya apa? dia tidak pernah meminta izin bukan?
Satu pertanyaan yang membuatku heran dalam kasusmu, “Untuk apa perempuan diciptakan?”
Bagiku yang pasti bukan hanya sekedar menyimpan mani lalu hamil dan melahirkan bukan? Ini keyakinanku. Perempuan bukan hanya sebagai alat instrumentasi seksual demi berkembangbiaknya spesies yang bernama Phytecantropus Erectus
Yang kedua pertanyaanku,”Apa yang membedakan kita (Perempuan) dengan laki-laki, di luar dari kelamin yang berbeda bentuk dan buah dada yang menonjol?

No comments:
Post a Comment