Thursday, April 11, 2013

Padmini (1)

Oleh Nita Nurdiani Putri / @NL_nurdianii


Haduh... aku tak tahu apa yang harus aku lakukan? Apalagi sebagai teman. Aku juga tak mengerti. Padmini sayang, kamu itu tampaknya sedang di pengaruhi kebodohanmu sendiri. Padmini kamu ini perempuan. Tepatnya manusia perempuan. Sebagai manusia aku dan kamu harus bergerak maju. Sebagai manusia perempuan juga, kita harus merasa wajib untuk maju dalam titik optimal.

Bukan hanya itu Padmini. Kamu dalam keadaanmu saat ini, berpikirlah rasional. Pergunakalah otakmu dengan jernih, hati nurani dan bekerjasamalah dengan manusia-manusia yang ada di sekitarmu.

Kita pernah berjanji bukan untuk bisa menjadi manusia yang mumpuni? Kemana dirimu saat ini? kamu yang dulu ajariku untuk bisa hidup dengan logika kita? Lalu kemana saat ini logikamu?

Padmini, kamu telah banyak berubah. Aku bahkan sudah tidak mengenali dirimu lagi saat ini. Pakaianmu, dirimu dan sifatmu yang dulu itu kemana?

“Kita akan jadi manusia perempuan yang berpotensi!” katamu sambil berapi-api.

Itu sekitar 2 tahun yang lalu kamu berbicara seperti itu.

Kamu saat ini hanya menangis saja. Seharian bahkan. Kasihan badanmu. Berbulan-bulan aku temuimu masih saja dalam kondisi yang seperti itu. Kamu menangis begitu saja. Priamu melakukan poligami?

“Terjadi atau tidaknya poligami ada di tangan kita loh?”

Aku juga bingung apa yang mengubah dirimu hingga pada akhirnya priamu melakukan poligami. Setahun yang lalu, aku senang dengan perubahanmu. Sangat senang. Bahkan kamu mengenakan hijab. Sebulan kemudian dari perubahanmu, kamu malah memlebar hijabmu.

3 bulan yang lalu, aku pernah bertemu dengan suamimu. Bercerita tentang kondisi yang marah dan terhina atas perlakuannya terhadapnya. Apalagi tentang poligami.

“Itu kan ujian untuk Padmini. Itu latihan ikhlas untuknya. Lebih patuh sama perintah tuhan. Ihklas dipoligami itu artinya berkorban untuk Tuhan loh...”

“Setiap manusia kan punya hak untuk tumbuh dan berkembang kan? berhak untuk mengeluarkan pendapat. Ini juga diatur dalam undang-undang,” aku membantahnya.

“Itu pola pikir orang kafir! Perempuan tidak boleh berpikir seperti itu. dunia ini sudah hancur. Ingin setara dengan laki-laki? ingin menjadi laki-laki?”

“Tapi Mas....?” aku tidak sependapat dengannya.

“Tugas perempuan itu utamanya di rumah. Jadi ibu sekaligus istri yang patuh dan ta’at terhadap suami. Biar ngerti dan takut sama Tuhan!”

Loh? Ini tuh apa? ucapku dalam hati saat itu.

Itu kata-kata kafir. Berarti aku dan kamu harus menanggung dosa secara koletif.

Sekarang, keadaanmu Padmini di keluarga. Kamu diacuhkan. Sudah tidak dianggap dan Mas Dannarmu hanya berkata kepadamu, “Imanmu lemah!”

Dengan keadaan ini aku tidak terima. Perempuan hanya dijadikan objek saja. perempuan sebagai ssstttt.... pabrik anak!

Ingatlah Padmini, saat perempuan tidak lagi dianggap sebagai manusia, hanya dibetinakan. Maka, runtuhlah nilai-nilai kehidupan. Satu lagi yang harus diingat, ketika perempuan tidak lagi bisa mengembangkan potensinya. Maka, runtuhlah nilai-nilai kemanusiaan.

Dia hanya melihat perspektif agama dalam satu sudut pandang. Tuhan bahkan mengajarkan dan memberikan pengetahuan kepada kita, bukan untuk saling membunuh, menyakiti dan menyengsarakan.

(bersambung ke Kamis depan)

1 comment: