Wednesday, February 20, 2013

Batas


Oleh @riorahadiant




Terik. Kereta berhenti sejenak. Keringat turun di dahiku. Sial. Andai aku punya uang lebih agar tak perlu naik kereta ekonomi Surabaya-Bandung ini. Sudah bau, pengap, panas pula. Oh ini seperti ruang spa berjalan saja. Besar kemungkinan aku sampai Bandung tinggal nama.

Aku cek nama stasiun ini dari balik jendela. Kroya. Astaga, Bandung masih delapan jam lagi rupanya. Maka aku hanya bisa menghela napas.

“Permisi, Mas,” kata seorang bapak yang membawa tas besar. Medok sekali cara bicaranya. Dia pasti Jawa tulen. Bapak itu lalu menaruh tasnya ke atas dan duduk tepat di sampingku. Aku sebangku dengan Jawa. Lengkap sudah penderitaan.

Saat kereta mulai melaju lagi yang aku pikirkan cuma satu : keselamatanku. Masih jelas di ingatanku soal nasihat orangtuaku perihal orang Jawa. Orang Jawa itu licik. Orang Jawa itu egois. Orang Jawa itu penipu. Banyak di antara mereka yang pergi ke Tatar Sunda, tidak sukses, lalu jadi kriminal. Oh tidak, kini aku sebangku dengan bahaya itu.

Dia menggeser duduknya ke arahku. Aku tak mau didekat-dekat olehnya. Dompetku langsung kupindahkan ke saku depan. Aku menempelkan badan ke sudut kursi. Duduk miring yang tidak nyaman. Membuat wajahku makin leluasa diserang matahari lewat jendela. Panas. Aku haus. Ah sial, gara-gara bapak ini aku sampai lupa  beli makan di Kroya tadi.

Lagi-lagi keringat menyusuri dahiku. Mulutku ingin menguap tapi terpaksa aku tahan. Aku tak mau terlihat lelah olehnya. Dari tadi aku hanya bisa memasang wajah siaga, mencatat setiap geriknya.

“Mau makan, Mas?” Tanyanya tiba-tiba sambil menyodorkan nasi bungkus. Ah ini dia modus itu dimulai! Pasti makanan itu sudah diberi obat tidur. Bila aku terima aku akan tertidur dan dia bebas mencukil milikku semua. Tidak terimakasih. Aku tak mau jadi korban kriminal di kereta api seperti yang ramai diberitakan.

Aku menggeleng. Dia lalu permisi untuk makan. Aku tak menjawab, hanya menatapnya lekat. Orang itu makan, suap demi suap, biasa saja. Lah berarti tidak beracun!

Dia berbasa-basi pamit tidur. Silakan saja, ujarku ketus. Mau tidur saja bilang segala. Ah ya, itu pasti modus lagi. Itu hanya caranya membuatku berpikir bahwa dia tidur. Selanjutnya aku akan tidur dan dia bebas mengambil milikku. Oh aku tidak sebodoh itu.

Jam sembilan malam dan akhirnya sampai di Bandung. Wajahku sudah tidak berbentuk. Kepanasan, kelaparan, kurang tidur. Aku terpaksa menderita begitu karena sepenuhnya aku waspada akan bapak tadi. Tak sedetik pun aku biarkan diriku tak siaga. Selama itu aku terus khawatir akan berbagai modus yang diceritakan orangtuaku. Aku merasa dipenjara.

Aku ingin langsung turun tapi bapak ini menghalangi. Aku menunggu sejenak sampai bapak itu terbagun oleh senggolan penumpang yang mulai turun. Dia menoleh padaku lalu tersenyum. Dia mengambil tasnya lalu langsung turun tanpa bicara apa-apa. Meninggalkan aku yang menyadari satu hal. Ternyata aku sibuk oleh hal yang sebenarnya tidak ada.

Tidak ada. Ini sudah sampai Bandung dan pencurian itu tak ada. Aku baik-baik saja. Apa yang sebenarnya tadi aku takutkan? Menyesal sekali aku waspada berlebihan, mencurigai apa pun yang dilakukannya. Rasanya buang-buang tenaga, waktu dan kewarasan saja. Andai aku tidak menghiraukan perbedaan bapak itu, aku bisa duduk nyaman, makan, dan terutama tidur. Sikap kesukuan yang aku bayar mahal sekali. []

No comments:

Post a Comment