Kita masih di sini, di kawasan Pecinan, dan sudah sepuluh menit diam berjarak. Tanpa bertukar kata. Hanya ada suara motor kita mengisi kekosongan. Juga riuh barongsay malam Imlek di kejauhan.
“Boleh
tunggu sepuluh menit lagi enggak?” katamu padaku dengan nada yang membuat iba.
Kamu matikan motormu, menandakan akan menunggu.
Oh, yang benar saja! Mestinya kamu tahu
malam Imlek ini begitu berkesan buatku. Kamu tahu sendiri ini Imlek bersama
keluargaku setelah dua tahun tak bisa pulang ke Bandung. Maka aku menyiapkan
banyak hal istimewa untuk merayakan ini.
Sudah kusiapkan kembang api hingga kue
keranjang. Ingin sekali aku segera menyalakan kembang api di sekitar Kelenteng.
Andai kamu tahu bahwa aku samasekali tak sabar melakukannya. Aku tidak ingin
mengabulkan permintaanmu ini. Namun, melihat sorot matamu yang aduhai barusan
itu membuatku tak mungkin menolak.
“Tunggu
siapa sih? Kamu buang-buang waktu,” pungkasku dengan nada malas. Dalam intonasi
itu terselip keinginanku yang sebenarnya ingin pergi. Aku gas motorku lebih
keras.
“Teman,
dia mau ikut ke Kelenteng,” katamu lalu kembali melihat ke ujung jalan.
“Bukannya teman kita udah berangkat duluan
tadi?”
“Bukan
mereka.“
Oh, ayolah, aku sudah rindu benar dengan
Imlek di Bandung. Barongsay, liongnya juga, juga atraksi wushu. Semuanya
dibalut oleh keramahan bincang-bincang, tegur sapa, dan tukar senyum dari sanak
famili. Kemeriahan, kehangatan, nostalgi, semangat, dan lainnya dan lainnya.
Aku tak sabar ke sana, tak mau menunggu lagi!
“Ayo
dong, udah jam setengah sembilan nih. Keluarga kita udah di Kelenteng dari
tadi.”
“Lima
menit lagi ya, kasian temanku ini.”
Dua tahun tak jumpa membuat temanku ini jadi
tak kumengerti. Entah kenapa dia rela telat ke ramah tamah Imlek hanya untuk
menunggu temannya yang bahkan belum aku ketahui. Lagi pula, teman dia itu siapa
pula, pakai telat segala. Sudah tahu malam Imlek, harusnya orang itu
bergegas.
“Di
mana temanmu itu? Lama benar.”
Kamu
menoleh.
“ Di
mana?” tanyaku mulai ketus. “Kalau alasan dia telat itu norak, aku berangkat
duluan.”
“Dia
lagi di situ,” jawabmu sambil menunjuk satu belokan. “Mm..”
“Mmm?”
Sejenak
dia diam.
“Di
mana?!”
“Masjid,
dia lagi salat Isya.”
Oh, ternyata dia muslim.
Seketika
aku gas motorku ke lokasi yang dimaksud. Langsung menuju masjid kecil yang
seingatku memang ada di balik belokan tadi.
“Ke mana?!”
teriaknya was-was sambil buru-buru menyalakan motornya. Mengikutiku.
Aku
menoleh lalu teriak, “aku jemput temanmu!”
Aku salah. Ternyata temanku tidak membuang
waktu. Apalah artinya menonton barongsay bersama ratusan umat yang se-agama di
Kelenteng itu, bila dibandingkan menunggu kehadiran satu umat agama lain yang
dengan keinginannya sendiri mendekati kami?
Untuk apa seorang muslim datang ke
Kelenteng di malam Imlek, oh itu tidak penting. Yang jelas inilah awal saling mengerti
itu. Dan
saling mengerti itu jangan cuma ditunggu. Jemput saja sekalian. []
*Untuk
keluarga Kong Miao dan Majelis Agama Konghucu Bandung, maaf malam Imlek kemarin
saya tak hadir lantaran demam. Selamat Imlek untuk semuanya.

No comments:
Post a Comment