Monday, February 11, 2013

Menunggu


Oleh Rio Rahadian Tuasikal / @riorahadiant


Kita masih di sini, di kawasan Pecinan, dan sudah sepuluh menit diam berjarak. Tanpa bertukar kata. Hanya ada suara motor kita mengisi kekosongan. Juga riuh barongsay malam Imlek di kejauhan. 

“Boleh tunggu sepuluh menit lagi enggak?” katamu padaku dengan nada yang membuat iba. Kamu matikan motormu, menandakan akan menunggu. 

Oh, yang benar saja! Mestinya kamu tahu malam Imlek ini begitu berkesan buatku. Kamu tahu sendiri ini Imlek bersama keluargaku setelah dua tahun tak bisa pulang ke Bandung. Maka aku menyiapkan banyak hal istimewa untuk merayakan ini.

Sudah kusiapkan kembang api hingga kue keranjang. Ingin sekali aku segera menyalakan kembang api di sekitar Kelenteng. Andai kamu tahu bahwa aku samasekali tak sabar melakukannya. Aku tidak ingin mengabulkan permintaanmu ini. Namun, melihat sorot matamu yang aduhai barusan itu membuatku tak mungkin menolak.

“Tunggu siapa sih? Kamu buang-buang waktu,” pungkasku dengan nada malas. Dalam intonasi itu terselip keinginanku yang sebenarnya ingin pergi. Aku gas motorku lebih keras.

“Teman, dia mau ikut ke Kelenteng,” katamu lalu kembali melihat ke ujung jalan.

“Bukannya teman kita udah berangkat duluan tadi?”

“Bukan mereka.“

Oh, ayolah, aku sudah rindu benar dengan Imlek di Bandung. Barongsay, liongnya juga, juga atraksi wushu. Semuanya dibalut oleh keramahan bincang-bincang, tegur sapa, dan tukar senyum dari sanak famili. Kemeriahan, kehangatan, nostalgi, semangat, dan lainnya dan lainnya. Aku tak sabar ke sana, tak mau menunggu lagi!

“Ayo dong, udah jam setengah sembilan nih. Keluarga kita udah di Kelenteng dari tadi.”

“Lima menit lagi ya, kasian temanku ini.”

Dua tahun tak jumpa membuat temanku ini jadi tak kumengerti. Entah kenapa dia rela telat ke ramah tamah Imlek hanya untuk menunggu temannya yang bahkan belum aku ketahui. Lagi pula, teman dia itu siapa pula, pakai telat segala. Sudah tahu malam Imlek, harusnya orang itu bergegas. 

“Di mana temanmu itu? Lama benar.” 

Kamu menoleh.

“ Di mana?” tanyaku mulai ketus. “Kalau alasan dia telat itu norak, aku berangkat duluan.”

“Dia lagi di situ,” jawabmu sambil menunjuk satu belokan.  “Mm..”

“Mmm?”

Sejenak dia diam.

“Di mana?!”

“Masjid, dia lagi salat Isya.”

Oh, ternyata dia muslim.

Seketika aku gas motorku ke lokasi yang dimaksud. Langsung menuju masjid kecil yang seingatku memang ada di balik belokan tadi.

“Ke mana?!” teriaknya was-was sambil buru-buru menyalakan motornya. Mengikutiku.

Aku menoleh lalu teriak, “aku jemput temanmu!”

Aku salah. Ternyata temanku tidak membuang waktu. Apalah artinya menonton barongsay bersama ratusan umat yang se-agama di Kelenteng itu, bila dibandingkan menunggu kehadiran satu umat agama lain yang dengan keinginannya sendiri mendekati kami? 

Untuk apa seorang muslim datang ke Kelenteng di malam Imlek, oh itu tidak penting. Yang jelas inilah awal saling mengerti itu. Dan saling mengerti itu jangan cuma ditunggu. Jemput saja sekalian. []


*Untuk keluarga Kong Miao dan Majelis Agama Konghucu Bandung, maaf malam Imlek kemarin saya tak hadir lantaran demam. Selamat Imlek untuk semuanya.

No comments:

Post a Comment