Prak. Astagfirullah.
“Enggak
lihat aku lagi melukis, de?” bentakku padanya yang baru saja menjatuhkan
paletku.
Kini
dia berlari keluar kamarku sambil cengengesan. Meninggalkanku yang masih diburu
kesal. Aku berdoa semoga barusan terakhir kali dia masuk kamarku. Demi apa pun
aku kalap. Aku tak mau diganggu lagi. Lukisan ini baru kuberi warna dasar, baru
selesai sepuluh persen. Dan ini tugas nirmana besok siang.
Aku
sempatkan menghela napas. Lantas merapikan paletku yang kini belepotan warna
merah.
Oh
betul. Teman adikku yang satu itu paling aku benci. Kerjaanya tiada lain adalah
menggangguku. Entah kesambet jin apa adikku mau berteman dengannya. Padahal
adikku tahu dia Protestan, plus asli Batak. Lebih parah lagi, adikku sering
mengajaknya main ke rumah. Dua hari sekali, setidaknya.
Seringkali
aku terganggu dengan kehadirannya. Dia suka masuk kamarku tiba-tiba. Lalu suka
meminta dibuatkan ini dan itu. Yang paling tak kusuka adalah dia tiba-tiba
menyanyi kidung gereja. Keras-keras pula. Itu pasti dia pelajari di sekolah Minggu.
Tak sadarkah dia bila ini rumah seorang muslim?
Oke,
warna dasar merah siap sudah. Kini saatnya ornamen warna hitamnya. Tapi, eh, ke
mana botol cat hitamku? Ah, ini pasti diambil dia! Dasar Batak Protestan.
Baru
saja aku akan mengejar bocah menjengkelkan itu, dia masuk ke kamar dan melempar
botol hitam tepat ke kanvasku. Melewati badanku. Dilanjutkan dengan botol cat
biru yang ternyata juga dia bawa. Keduanya berhamburan, menghancurkan konsep
lukisan yang kuidamkan. Tumpah ruah sampai lantai segala.
Astagfirullah.
Ya
Allah, kenapa Engkau tidak menciptakan semua orang sama saja? Kenapa tidak
semua dapat hidayah Islam saja? Kenapa tidak semua manusia ras mongoloid saja?
Kenapa tidak semua manusia suku Jawa saja? Kenapa tidak Engkau ciptakan manusia
yang serbasama saja? Bukankah itu bagiku, dan kurasa bagi banyak orang, akan
jauh lebih mudah?
Cukup
sudah. Aku naik darah.
“Heh,
de!” teriakku dari dalam kamar.
Dia
terperanjat dan langsung menunduk takut.
Sekilas
aku lihat lukisanku yang hancur. Warna merahnya kini lebur dengan hitam dan
biru. Ketiganya membentuk pola abstrak mirip wajah. Ketiganya saling menutupi.
Saling melengkapi. Mewarnai. Indah.
Mungkin itu.
Allah
Yang Maha Kuasa ternyata menjawab doaku saat itu juga. Kilat sekali.
Seperti
pelangi yang hambar jika biru semata. Seperti lukisanku yang tak berkesan bila
merah saja. Kini aku mengerti kenapa kami harus berbeda. Dia Batak dan saya
Jawa. Dia Protestan dan saya Islam. Justru karena itu kami saling mewarnai.
Saling melengkapi. Mengindahkan.
Maka
kalimat amarahku tadi kontan berubah jadi aneh, “besok lebih hati-hati, ya.”
Kami
jeda.
“Ma...
ma...“ kata dia sambil menahan air mata. “Maaf ya, kak.”
Dan
aku hanya bisa tersenyum lalu mengambil kanvas baru. []

No comments:
Post a Comment