Monday, February 11, 2013

Beda Warna

Oleh Rio Rahadian Tuasikal / @riorahadiant





Prak. Astagfirullah. 

“Enggak lihat aku lagi melukis, de?” bentakku padanya yang baru saja menjatuhkan paletku.

Kini dia berlari keluar kamarku sambil cengengesan. Meninggalkanku yang masih diburu kesal. Aku berdoa semoga barusan terakhir kali dia masuk kamarku. Demi apa pun aku kalap. Aku tak mau diganggu lagi. Lukisan ini baru kuberi warna dasar, baru selesai sepuluh persen. Dan ini tugas nirmana besok siang.

Aku sempatkan menghela napas. Lantas merapikan paletku yang kini belepotan warna merah.

Oh betul. Teman adikku yang satu itu paling aku benci. Kerjaanya tiada lain adalah menggangguku. Entah kesambet jin apa adikku mau berteman dengannya. Padahal adikku tahu dia Protestan, plus asli Batak. Lebih parah lagi, adikku sering mengajaknya main ke rumah. Dua hari sekali, setidaknya.

Seringkali aku terganggu dengan kehadirannya. Dia suka masuk kamarku tiba-tiba. Lalu suka meminta dibuatkan ini dan itu. Yang paling tak kusuka adalah dia tiba-tiba menyanyi kidung gereja. Keras-keras pula. Itu pasti dia pelajari di sekolah Minggu. Tak sadarkah dia bila ini rumah seorang muslim?

Oke, warna dasar merah siap sudah. Kini saatnya ornamen warna hitamnya. Tapi, eh, ke mana botol cat hitamku? Ah, ini pasti diambil dia! Dasar Batak Protestan.

Baru saja aku akan mengejar bocah menjengkelkan itu, dia masuk ke kamar dan melempar botol hitam tepat ke kanvasku. Melewati badanku. Dilanjutkan dengan botol cat biru yang ternyata juga dia bawa. Keduanya berhamburan, menghancurkan konsep lukisan yang kuidamkan. Tumpah ruah sampai lantai segala.

Astagfirullah.

Ya Allah, kenapa Engkau tidak menciptakan semua orang sama saja? Kenapa tidak semua dapat hidayah Islam saja? Kenapa tidak semua manusia ras mongoloid saja? Kenapa tidak semua manusia suku Jawa saja? Kenapa tidak Engkau ciptakan manusia yang serbasama saja? Bukankah itu bagiku, dan kurasa bagi banyak orang, akan jauh lebih mudah?

Cukup sudah. Aku naik darah.

“Heh, de!” teriakku dari dalam kamar.

Dia terperanjat dan langsung menunduk takut.

Sekilas aku lihat lukisanku yang hancur. Warna merahnya kini lebur dengan hitam dan biru. Ketiganya membentuk pola abstrak mirip wajah. Ketiganya saling menutupi. Saling melengkapi. Mewarnai. Indah.

Mungkin itu.

Allah Yang Maha Kuasa ternyata menjawab doaku saat itu juga. Kilat sekali.

Seperti pelangi yang hambar jika biru semata. Seperti lukisanku yang tak berkesan bila merah saja. Kini aku mengerti kenapa kami harus berbeda. Dia Batak dan saya Jawa. Dia Protestan dan saya Islam. Justru karena itu kami saling mewarnai. Saling melengkapi. Mengindahkan.  

Maka kalimat amarahku tadi kontan berubah jadi aneh, “besok lebih hati-hati, ya.”

Kami jeda.

“Ma... ma...“ kata dia sambil menahan air mata. “Maaf ya, kak.”

Dan aku hanya bisa tersenyum lalu mengambil kanvas baru. []

No comments:

Post a Comment