Oleh @riorahadiant
Kamu senyum-senyum centil saat memasukkan cetakan cokelatmu
ke kulkas. Barusan kamu selesaikan pesanan terakhir di valentine tahun ini.
Pastilah kamu senang sekali karena usaha cokelat tahunanmu laku kembali. Mulai
sejak dua tahun lalu, usahamu selalu kebanjiran order dari banyak orang. Dari
temanmu, saudaramu, tetanggamu, atau teman dari saudara tetanggamu.
Rasanya tak perlu kujelaskan kenapa cokelatmu begitu
diminati. Kamu hanya memakai bahan impor kualitas wahid : cokelat produk Belgia,
susu vanila produk Prancis dan walnut produk Amerika. Racikan warisan nenekmu yang
hanya diketahui kamu sendiri. Ditambah cara membuat yang begitu presisi dan
detil, pesanan bisa kustom dan dipersonalisasi. Semuanya lalu dikemas dalam
kotak kertas yang dihias pita-pita yang kamu kerjakan hingga dini hari.
Dari dua puluh tiga kotak yang aku lihat tahun ini, rasanya
semua terasa lezat bahkan bila kotaknya saja. Tentu harga yang ajaib adalah
sepadan untuk dedikasi yang kamu buat. Membayar rasa lelahmu yang sepekan ini jadi
kurang tidur. Aku melihatmu bukan sebagai pengusaha, kamu tak lebih dari sekadar
penggila cokelat.
Tiga puluh menit berselang kamu kembali ke kulkas Selanjutnya
kamu akan mengemas cokelat-cokelat aduhai itu.
“Yah!” teriakmu mengagetkanku.
“Kenapa? Gagal?”
“Bukan, aku salah bahan.”
Aku memiringkan muka meminta penjelasan.
“Aku pakai cokelat impor non-halal, sedangkan temanku yang
pesan muslim. Aku lupa.”
“Cokelat doang,” kataku malas-malasan.
Kamu geleng kepala lalu diam sebentar. Kamu keluarkan
semuanya dari kulkas dan berlari ke kamar. Belepotan kamu pakai jaket lalu
keluar rumah.
“Loh, kamu mau ke mana?”
“Ke minimarket, beli cokelat leleh halal.”
“Tapi temanmu enggak bakal tahu,” responku memaksa. Tak habis
pikir aku melihatmu mengulang bikin cokelat dari awal. Itu artinya memakai dua
jam lagi. Berpeluh lagi.
Kamu tersenyum.
“Kata kamu kalau cokelat lokal kurang manis?” pungkasku.
“Lebih baik cokelatnya kurang manis,” kamu jeda. “Daripada hubunganku
dan temanku jadi tak harmonis.”
Aku bengong.
“Cokelat yang tadi buat kamu saja,” katamu sambil tersenyum.
Lalu kamu pergi. []

No comments:
Post a Comment